Kesalahan Lia Eden Sama dengan Kesalahan Muhammad

Posted on Februari 27, 2012

0


:

:
Terlebih dahulu kita perlu tahu kasus tragis Lia
Aminudin, pendiri Komunitas Eden, yang kini lebih
dikenal sebagai Lia Eden, pemimpin agama baru yang
disebut Salamullah. Menurut Bunda Lia, peristiwa ajaibnya diawali sewaktu dia melihat sebuah bola
bercahaya kuning berputar-putar di udara, dan lenyap
ketika berada di atas kepalanya. Hal ini terjadi di
serambi rumahnya di tahun 1974 tatkala ia lagi
bersantai dengan abang mertuanya. Peristiwa ajaib
kedua terjadi pada malam 27 Oktober 1995 ketika dia
sedang ber-shalat. Ketika itulah dia merasakan
kehadiran Jibril secara nyata. Dan tidak lama setelah
itu, Lia Eden pun mulai menerima bimbingan Malaikat
Jibril secara berkala, hingga kini.
Selama proses pembimbingan itu, ia mengatakan
bahwa Malaikat Jibril menyucikan dan mendidik
dirinya melalui ujian-ujian sehari-hari yang sangat
berat, termasuk pengakuan-pengakuan kontroversial
yang harus dinyatakannya kepada masyarakat atas
perintah Jibril. Tuhan memberinya nama Lia Eden
sebagai pengganti namanya yang lama.
Lia juga menyebut dirinya Imam Mahdi yang muncul
di dunia sebelum hari kiamat untuk membawa
amanat, keamanan dan keadilan di dunia.
Pada tahun 2000, agama Salamullah ini diresmikan
oleh pengikut-pengikutnya sebagai sebuah agama
baru. Agama Salamullah mengakui bahwa Nabi
Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir.
Pernyataan bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir,
dimaksudkannya bukan sebagai “stop” bagi nabi lain
yang muncul belakangan. Melainkan stop bagi Islam,
yang memang ia telah diberikan wewenang oleh
Tuhan untuk menghapuskannya. Lia Eden justru
mengakui sosok pembawa kepercayaan yang lain
seperti Buddha Gautama, Yesus Kristus dan Kwan Im,
Dewi pembawa rahmat yang disembah orang
Tionghoa akan muncul kembali di dunia. Ia juga
menempatkan diri sebagai Bunda Maria dan sekaligus
sebagai inkarnasi Jibril dalam wujud fisiknya, yang
dari waktu ke waktu menerima wahyu untuk
disampaikan kepada umat manusia, termasuk
teguran-teguran kepada Pemerintah Indonesia. Maka
ia segera menjadi batu sandungan bagi Majelis Ulama
Indonesia dan juga anasir-anasir radikal Islam yang
menganggapnya sebagai bidat dan penghujat Islam.
Ia ditangkap atas dasar penistaan agama, dan
pengadilan menjatuhkan hukuman dua tahun penjara
kepadanya. Antara lain atas dakwaan mengajarkan
ber-shalat bukan hanya dalam satu bahasa Arab,
memelintirkan tafsiran pada sejumlah ayat-ayat Al-
Quran demi mendukung gagasan ke-jibrilan-nya, serta
menghalalkan makan babi. Lia Eden sempat meminta
majelis hakim untuk menghadirkan Jibril ke
persidangan. Ia menyatakan, pertanyaan majelis
hakim seharusnya ditujukan kepada Jibril, bukan
dirinya. Namun dipenjara selama 2 tahun tidak
membuat pimpinan Kerajaan Eden ini tobat dari iman
dan ajarannya. Setelah bebas dari Rutan Pondok
Bambu pada 30 Oktober 2007, ia menyatakan akan
terus melanjutkan ajarannya meskipun divonis
sebagai ajaran sesat oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat dan MUI. Dan benarlah! Tak lama kemudian Lia
meneruskan ajaran yang diyakininya, dan belakangan
ini ia ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman selama dua
setengah tahun! Lia terbukti bersalah melakukan
penistaan dan penodaan agama. Putusan ini
dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat, awal Juni 2009, dan
menyatakan Lia terbukti melakukan penistaan agama
karena telah menyebarkan 4 risalah kepada berbagai
institusi termasuk Presiden RI pada tanggal 23
November hingga 2 Desember 2008. Diantaranya
pernyataan menyerukan penghapusan agama islam
dan agama-agama lainnya.
Sekalipun Lia Eden ditetapkan menjadi terdakwa
dengan tuduhan penodaan atas agama Islam, namun
ia bersikukuh berpendapat bahwa penghapusan
agama yang dimintanya bukan penodaan agama.
Melalui rilis yang dibagikan di Polda Metro Jaya,
Jakarta tertanggal 16/12/2008, Lia Eden menyebutkan,
tidak ada pasal hukum apa pun yang dapat
dipaksakan untuk menjerat dia atau pengikutnya
sebagai tersangka.
Berikut edaran Lia Eden:
Aku Malaikat Jibril turun tangan menjadikan peristiwa
ini untuk memperjelas hukum yang salah, yaitu pasal
156 a KUHP tentang penodaan agama yang telah 2
kali ingin dijeratkan sebagai kesalahan Lia Eden. Itu
karena tidak ada pasal hukum yang bisa dipakai.
Tetapi apakah keadilan hukum dapat diharapkan
sedemikian. Fatwa Tuhan tentang penghapusan
semua agama bukan kejahatan penodaan agama.
Marilah seluruh umat mengkaji tentang fatwa Tuhan
yang Maha Kudus tersebut. Sebab, Lia Eden dan
semua pengikutnya akan bertahan menyatakan diri
tidak bersalah menghadapi laporan Abdurahman
Assegaf yang nyata-nyata seorang teroris dan
menyulut anarkisme dan perusakan rumah ibadah.
Apakah laporannya itu lebih dipentingkan kepolisian
RI atau kebenaran wahyu Tuhan. Aku Malaikat Jibril
membalikkan semua dan aku akan mengakhiri
kebiadaban agama di dunia ini (detikNews,
16/12/2008).
Lia Eden kembali ditangkap oleh pihak kepolisian.
Namun ia tetap pada pendiriannya, dkapan kembali
Lia Eden, dan kali ini, disamping Jaringan Islam Liberal,
ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Hendardi,
menganggap ditangkapnya Lia Eden sebagai bukti
bahwa keyakinan seseorang atau komunitas tidak
bisa diadili. “Sekalipun Lia Aminudin telah dihukum
selama 2 tahun, tetap saja keyakinannya tidak akan
bisa sirna dan tetap menjadi keyakinannya.
Keyakinan bukanlah domain hukum tapi soal yang
transendental, karena itu dalam peradaban yang
humanis, hak kebebasan beragama haruslah dijamin”,
kata Hendardi dalam rilis kepada detikcom, Senin
(15/12/2008).
Menurut Hendardi, hukum bekerja pada domain
material, terukur, dan konkret, karena itu hukum
beroperasi di atas fakta-fakta hukum, bukan fantasi
atau asumsi para penegak hukum atas sebuah
tindakan kejahatan. Kebebasan beragama adalah hak
dasar setiap manusia yang dijamin dalam konstitusi
Indonesia dan hukum internasional hak asasi manusia.
Karena itu, pembatasan atas nama apa pun tidak bisa
dibenarkan. Sebaiknya pemerintah belajar dari
berbagai peristiwa serupa, bahwa membunuh
keyakinan orang tidaklah mungkin dilakukan oleh
negara, sekalipun dengan jalan kekerasan. Indonesia
yang telah meratifikasi Kovenan Sipil dan Politik,
sesungguhnya berkewajiban memenuhi hak untuk
bebas berkeyakinan.
Luthfie Assyaukanie PhD., saksi ahli untuk UU
Penodaan Agama ini memang mencontohkan apa
kesamaannya seorang Lia Eden dengan seorang
Muhammad dalam hal yang dipersalahkan
masyarakat. Dalam sidang Mahkamah Konstitusi di
Gedung MK, tanggal 17 Februari 2010, saksi ahli ini
menilai kasus Lia Eden sama dengan awal
penyebaran Islam oleh nabi Muhammad SAW. Dalam
pandangan ilmu keislamannya yang jernih, ia cukup
berani berkata: “Apa yang dilakukan oleh Lia
Aminudin, sama seperti yang dilakukan Nabi
Muhammad. Kesalahan Lia sama dengan yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad waktu munculnya
Islam.” Menurut dia, awalnya Islam (dianggap) salah
menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar
oleh kelompok mayoritas. Hal ini sama dengan
sekarang, anggapan dan perlakuan orang terhadap Lia
Eden.
KESALAHAN LIA EDEN YANG SAMA FATAL DENGAN
MUHAMMAD
Luthfie Assyaukanie cukup berani menganalogikan Lia
dengan Muhammad, sehingga pada zamannya
masing-masing keduanya sama-sama telah dikejar-
kejar oleh kaum mayoritas setempat. Tetapi agaknya
Lutfie belum cukup berani mengungkapkan semua
yang diketahui-nya sebagai seorang ilmuwan dalam
Study Islam, yaitu menganalogikan jenis kesamaan
yang jauh lebih fundamental diantara kedua pihak
tersebut. Sebab apa yang telah diperbandingkan
Luthfie hanyalah fenomena keagamaan yang
memang terjadi dimana-mana.That’s no big deal!
Bukankah para rasul Tuhan yang dianggap membawa
“ajaran-baru” selalu dianggap mengganggu dan sesat,
didustakan dan dibunuh? Di abad ke-7, Al-Quran
sendiri menegaskan hal-hal semacam ini berulangkali:
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul
membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai
dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka
beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan
dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?(Qs.2:87,
5:70)
Dan di abad ke Satu (Masehi), bukankah Yesus dan
praktis semua rasulnya juga ditangkap, dianiaya dan
dibunuh? Itu semua terjadi karena kebenaran dan
keadilan dunia disandarkan pada nafsu kekuasaan
mayoritas, bukan kepada hati nurani dan hikmat yang
terdalam. Ketika tradisi dan agama main-stream
berhadapan dengan gagasan “asing” yang baru
muncul dan yang masih lemah (dalam kekuatan
politik dan fisik) dibandingkan dengan pihak minoritas,
maka mayoritas cenderung merasa dirinya terganggu
dan terancam. Ia sebagai abang-tua merasa harus
memberi pelajaran kepada si pendatang dan
bukannya diberi pelajaran!
Tidakkah hal yang sama terjadi pula pada awal-awal
pemunculan aliran Syi’ah di tengah-tengah mayoritas
Sunni? Mereka juga sempat dinyatakan sebagai sekte
Islam yang sesat, menyesatkan, dan kufur. Lihat
terbitan LPPI tentang Makalah Seminar Nasional
Tentang Syi’ah tahun 1997. Kata-kata sambutan dari
semua tokoh-tokoh besar Islam di situ telah
menghujat Syi’ah sedemikian bersalah dan
berbahayanya, sehingga menginginkan aliran ini
dilarang di Indonesia. Karena seringnya mereka
“dikejar-kejar” di dunia, maka Syi’ah harus
menghalalkan doktrin penipuan-suci yang terpaksa
dilakukannya, yang terkenal disebut sebagaitaqiyah,
dusta mana didasarkan pada benih ajaran
Muhammad juga (Qs.16:106, 3:28).
Ketika keselamatan mereka terancam oleh kaum
Sunni, maka pengingkaran iman Syi’ah mereka
(dengan berpura-pura menjadi penganut Sunni
sementara) dinyatakan halal demi nyawa dan Islam
Syi’ah! Belakangan, karena doktrin taqiyah
menunjukkan keampuhan, maka taqiyah kini malah
dianut secara luas dalam segala bidang kehidupan, ya
oleh Syi’ah, ya oleh Sunni – dengan mantera “demi
Islam”! Semua pihak merujuk kepada Muhammad
yang pernah berkata: “Taqiyah akan berjalan hingga
kepada hari kebangkitan” (Shahih Bukhari Vol. 9, Buku
89).
Kini Syi’ah telah bangkit menjadi perkasa di Indonesia
seperti sekarang ini dibawah kepeloporan Iran. Maka
siapakah yang usil atau berani mengejar-ngejar
mereka seperti dulu? Toko-toko buku malahan penuh
dengan literatur-literatur mereka, tersedia secara
bebas bahkan dominan! Inilah fenomena umum
dalam analogi “kesalahan Lia Eden sama dengan
kesalahan Muhammad”. Tetapi, that’s no big deal!
Bahkan bukan berita (news) lagi. Itu bukan bagian
dari kesalahan fundamental yang sama bagi
keduanya. Apalagi pihak mayoritas kini tidak cukup
punya integritas untuk menuding pihak lainnya ber-
taqiyah ria.
Kesalahan yang sama dan yang utama adalah justru
terletak pada kenyataan bahwa merekasama-sama
mengklaim dirinya sendiri sebagai Utusan Allah via
Jibril! Tidak ada Nabi terdahulu yang mengurapi-nya.
Tidak ada otoritas Tuhan yang menyaksikan kerasulan
dirinya. Semisal Lia Eden, kita tahu betapa dia
mengklaim dirinya sendiri lewat wahyu “Peresmian
Kerajaan Tuhan” tahun 2005.
Aku Allah. Aku Tuhanmu. Aku sedang di
hadapanmu. Aku menjadikan Kerajaan-Ku di sini.
Jadilah, maka jadilah. Dan Aku jadikan Lia Eden ratu
dan raja sekaligus di Kerajaan-Ku Eden. Jadilah,
maka jadilah. Akulah pencipta semesta. Dan
Akulah yang menjadikan dan meresmikan
Kerajaan-Ku itu di sini. Dan apabila Aku telah
meresmikan Kerajaan-Ku di sini, maka jadilah
penghakiman-Ku bagi seluruh umat manusia di
dunia. Tiadalah ada kebahagiaan, tiadalah ada
kegembiraan tiadalah ada kemaslahatan. Semua
orang menderita dan Aku hakimi. Tapi di Surga-Ku,
Kudirikan Kerajaan-Ku. Dan inilah hari Kuturunkan
Kerajaan-Ku. Kujadikan fatwa-Ku ini sebagai
peresmian Kerajaan-Ku di atas bumi. Jadilah, maka
jadilah…” dst.
Begitu pulalah pola kejadian kenabian Muhammad. Ia
dikunjungi dan ditekan/dicekik oleh Ruh (?) di gua
Hira. Disuruh membacakan ayat, “Iqra!” maka selang
beberapa waktu kemudian ia menganggap saat “Iqra”
tersebut itulah sebagai saat pentahbisan (pengurapan)
kenabian dirinya, Rasul Allah Yang Maha Kuasa yang
mengangkat dirinya sendiri!
Tetapi apa yang diam-diam dirasakan oleh sebagian
Muslim yang bernalar kritis tentang jati diri “Jibril”?
Bukankah kesosokannya sunguh sebuah misteri
terbesar dalam Islam yang tidak berani dibukakan
oleh Muslim? Telah diutarakan dalam artikel-artikel di
sini (tentang Jibril versus Gabriel), bahwa tak ada
Quran dan tak ada Islam jikalau tak ada Jibril. Namun
nyatanya dalam seluruh Quran, nama Jibril hanya
muncul diperkenalkan dan disebutkan 3 kali, setelah
belasan tahun Muhammad digeluti oleh Jibril! (Qs.2:97,
98 dan 66:4). Itu tentu pemunculan yang sangat
terlambat dan tidak wajar, karena ia tidak pernah
diperkenalkan secara pantas di Mekah!
[Awas, jangan Anda terkecoh dengan periwayatan
tradisi, seolah Jibril telah memperkenalkan dirinya
dengan berseru kepada Muhammad demi mencegah
dia bunuh diri dari atas bukit:“Muhammad! Engkau
Rasul Allah, dan aku Jibril”. Itu bukan kalimat
perkenalan diri. Itu juga bukan disampaikan sebagai
kalimat wahyu dari Ruh (melainkan tuturan Ibn Ishaq
dalam Sirat Nabi), padahal perkenalan-diri dari satu
sosok Ruh, mutlak harus berupa wahyu agar kredibel
dan layak. Dengan hanya menyebut “Aku Jibril”, maka
Jibril sungguh tidak memperkenalkan siapa dirinya,
kecuali berusaha merancukan kesejatian dirinya].
Penampilan yang berubah-ubah serta penyebutan-
nama yang simpang siur dari ruh ini (Ruhulqudus,
Ruhul-Amin, Rasul Karim, Ruh daripadaNya, dzu Mirah
dll., atau hanya sekedar “Ruh” saja), telah
disimplifikasi sesukanya oleh para ulama seolah-olah
dia memanglah Jibril yang sama dengan Gabriel
Alkitab yang berkata secara jelas: “Akulah Gabriel
yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk
berbicara dengan engkau untuk menyampaikan kabar
baik ini kepadamu” (Lukas 1:19).
Sekalipun sosok Jibril itu tidak jelas bagi Muhammad
maupun Lia, namun Lia mengklaim Jibril sebagaimana
Muhammad. Mereka serta merta mengklaim dirinya
masing-masing sebagai Utusan Allah. Keduanya tidak
pernah membuktikan Jibril-nya itu siapa, melainkan
secara naïf meng-copy kesamaannya dengan Gabriel
Alkitab, namun gagal. Sebab yang asli turun sebagai
utusan Tuhan dengan otoritas surgawi yang jelas.
Gabriel mampu menunjukkan kuasa bernubuat
maupun kuasa bermujizat untuk membuktikan dirinya
dari surga, hal yang tidak pernah mampu
diperlihatkan oleh Jibrilnya Muhammad maupun Lia.
Dia menubuatkan kelahiran Yahya dan Isa dari rahim-
rahim yang mustahil dapat hamil. Sedang Jibrilnya
Muhammad hanya mampu mencontek kisah lama
Zakharia dan Maryam, itupun diriwayatkan dengan
kesalahan-kesalahan (di Surat Maryam), lalu coba
diperbaiki dalam surat Ali Imran.
Misalnya antara lain, di surat Maryam dikatakan
“Jibril” datang kepada Maryam dalam bentuk
seorang laki-laki sempurna (ayat 17), lalu
diwahyukan di surat Ali Imran 3:42,45 menjadi
“para malaikat” (jamak). Sementara di surat
Maryam, Tuhan sendiri yang berkata-kata langsung
dengan Zakharia, tiba-tiba di surat Ali Imran
Tuhannya dirubah menjadi para malaikat (jamak,
ayat 39) – bahkan diterjemahkan sebagai “Jibril” –
demi mencocokannya dengan risalah di Kitab Injil!
Gabriel berkuasa menghukum Zakharia menjadi bisu
seketika, dan tepat menubuatkan kapan bisunya akan
terbebaskan. Sedang Jibrilnya Lia meleset ketika
menubuatkan hari bencana Tsunami yang akan
menerjang pulau Jawa di awal tahun 2005,
khususnya di Pelabuhan Ratu Pantai Selatan, lalu
mencari alasan untuk mengaburkan kesalahannya.
Gabriel tahu dan menyapa nama dan memberi salam
damai kepada orang-orang yang dikunjunginya. Dia
bukan sosok misteri (baca: siluman) yang
mengunjungi Muhammad di gua dengan gaya
“mencekik” dan menteror, serta menyampaikan
“wahyu” dengan memberatkan kejiwaan NabiNya
lewat deringan lonceng di telinganya, bibir
bergemetaran, jantung berdegub dan keringat
bercucuran dll. Dia…Dan yang paling pokok – Gabriel
berbeda hakekat dengan Jibril – dia tidak pernah
memberitakan suatu firman Tuhan lalu mengacak dan
menggantikan isi beritanya, sedang Jiril membisikkan
ayat-ayat Allah kepada Muhammad untuk kemudian
diacak-acak urutannya (non kronologis), dan bahkan
untuk dibatalkan dan digantikan dengan ayat yang
lain (doktrin nasikh-mansukh, Qs.2:106).
Pernyataan Luthfie “Kesalahan Lia Eden sama dengan
kesalahan Muhammad” tidaklah meleset dari segi
bukti dan saksi sejarah. Mereka sama salahnya
karena memproklamirkan risalah surga dan kenabian-
diri tanpa menyertakan bukti dan saksi pihak ketiga.
Sama-sama Jibril-nya yang misterius harus mereka
bela, sehingga perlu mereka legendakan secara besar-
besaran agar tak kentara ia tak berkuasa untuk
bernubuat dan melakukan mujizat. Adakah Zakharia,
Maryam, Yahya dan Isa Almasih menggembar-
gemborkan dan melegendakan Gabriel mereka? Tidak
ada, dan tak perlu! Tetapi nyatanya, mereka yang me-
legendakan Jibrilnya justru tidak bisa saling berdialog
intim dengan sang Jibril sebagaimana Zakharia dan
Maria bisa berdialog dan bertanya apa saja kepada
Gabriel. Semua pewahyuan Jibril hanya one-way-
traffic, pendiktean yang keseluruhannya diucapkan
sendiri dari mulutnya. Itu sebabnya kenapa
Muhammad dan Lia tidak bisa bertanya dan
berbincang-bincang dengan Jibrilnya sebagaimana
Maryam bebas bertanya lebih jauh: “Bagaimana akan
ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak
pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku
bukan (pula) seorang pezinah!”(Qs.19:20)
Jadi, kita pantas bertanya, kenapa Jibril perlu
mengubah pola penyampaian wahyuNya kepada nabi
terbesarnya? Adakah wahyu satu arah lebih unggul
ketimbang wahyu dialogis? Siapakah Jibril yang
mengubah-ubah hal itu?
Kita tidak begitu tahu siapa persisnya yang telah turut
mengabsahkan Lia Eden sebagai utusan Allah selain
dirinya sendiri. Tetapi kita lebih tahu dari buku biografi
Muhammad yang otoritatif, bahwa justru Siti Khadijah
(!) yang men-test Jibril, lalu mengabsahkan kenabian
suaminya, dan akhirnya ini dipercaya dan dibenarkan
oleh Muhammad pula, dan diikuti oleh semua Muslim
yang merasa tak perlu meragukan lagi apa pun
tentang isu kenabian Muhammad!
Testing Khadijah adalah menarik, sekaligus lucu. Terbit
gagasannya untuk melakukan testing apakah ruh
(“Jibril”) yang mengunjungi suaminya itu ruh dari
Tuhan atau ruh-nya setan. Asumsinya adalah bahwa
seorang “Jibril” tentulah tidak bermata jalang yang
suka hal-hal yang porno. Jadi ia pun memberi instruksi
kepada Muhammad agar segera memberitahukan
kepada-nya apabila Muhammad melihat temannya
(Jibril) itu datang mengunjunginya. Ketika “teman”
tersebut datang, maka Khadijah menyuruh suaminya
duduk di paha kirinya sambil bertanya: “Apakah
engkau masih melihat dia?” Muhammad menjawab
“Ya”. Lalu Khadijah minta Muhammad pindah duduk
ke paha kanannya sambil bertanya hal yang sama.
Ketika Muhammad menjawab bahwa ia masih
melihat temannya, maka ia pun melenguh dan
mencopot jilbabnya (memperlihatkan aurat) dan
menanyakan hal yang sama. Dan kali ini Muhammad
bilang bahwa temannya tidak lagi kelihatan! Maka
khadijah-pun berteriak, “Bersukacitalah, sepupuku,
dan bergembiralah, sebab demi Allah, itu adalah
benar-benar malaikat dan bukan setan!
[Ibn Ishaq menambahkan, “Ketika saya menceritakan
tradisi ini kepada Abd Allah Ibn Hassan, ia berkata,
“Saya mendengar periwayatan yang sama dari ibu
saya Fatima, putri Husain, atas nama Khadijah.”
Menurut versi ini Khadijah menempatkan Nabi ke
bawah pakaiannya (bukan diatas pahanya), saat yang
mana sang Jibril lalu menghilang”]. (lihat Ibn. Hisham
“The Life of Muhammad”, vol.1, p.71, expanded by Abd
al-Masih).
Itulah testing satu-satunya yang pernah ada terhadap
kenabian Muhammad. Itu tidak dilakukan oleh nabi
yang ditunjuk Tuhan, melainkan oleh istrinya sendiri
yang begitu ingin mendamaikan hati suaminya yang
gelisah. Khadijah bukan kepanjangan tangan Tuhan, ia
bahkan belum masuk Islam dikala itu dan tidak
sempat menunaikan shalat lima waktu. Sayangnya
(dan lucunya) testingnya sebisa-bisanya hanya
dikaitkan dengan unsur seksual kedagingan yang
menjadikan suaminya sah seorang Nabi Allah! “Jibril”
yang tidak hadir dalam “adegan aurat
wanita”dipastikan adalah Utusan Tuhan yang sejati,
dan bukan jibril-jibrilan?! Tetapi yang paling harus
disayangkan adalah bahwa proklamasi Khadijah ini
justru diterima mentah-mentah oleh Nabi Muhammad
sebagai sah dari Tuhannya! Siapa yang lebih
bersalah???

sumber:
al hayat

:

: