ISMAIL BUKANLAH ANAK YANG DIKURBANKAN

Posted on Februari 11, 2012

0


Topik perdebatan anak yang dikurbankan telah
menjadi isu selama berabad-abad dalam hubungan
antara Islam – Kristen.
Muslim meyakini bahwa anak yang dikurbankan
adalah Ismail sekalipun Al-Qur’an sama sekali TIDAK
MENYEBUTKAN nama anak yang dikurbankan
tersebut.
I. MENURUT AL-QUR’AN
Dibawah ini adalah terjemahan Al-Qur’an (QS 37 : 100
– 113) yang mengisahkan peristiwa pengorbanan
tersebut.:
Penyembelihan Ismail
(ayat 100) : Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku
(SEORANG ANAK) yang termasuk orang-orang
YANG SALEH
(ayat 101) : Maka Kami beri dia kabar gembira dengan
seorang anak yang AMAT SABAR
(ayat 102) : Maka tatkala anak itu sampai (pada UMUR
SANGGUP) BERUSAHA bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata : “Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab :
“Hai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar.”
(ayat 103) : Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya),
(nyatalah kesabaran keduanya)
(ayat 104) : Dan Kami panggillah dia : “Hai Ibrahim,
(ayat 105) : sesungguhnya kamu telah membenarkan
mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami
memberikan balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik.
(ayat 106) : Sesungguhnya ini benar-banar suatu
UJIAN YANG NYATA.
(ayat 107) : Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar
(ayat 108) : Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian
yang baik) di kalangan orang-orang yang datang
kemudian
(ayat 109) : (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas
Ibrahim
(ayat 110) : Demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik.
(ayat 111) : Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba
Kami yang beriman”
Kabar gembira tentang kelahiran Ishak
(ayat 112) : Dan Kami beri dia kabar gembira dengan
(kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-
orang yang SALEH.
(ayat 113) : Kami limpahkan keberkatan atasnya dan
atas Ishaq. Dan diantara anak cucunya ada yang
berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap
dirinya sendiri dengan nyata.
Perlu diperhatikan bahwa 2 judul perikop yaitu
Penyembelihan Ismail dan Kabar gembira tentang
kelahiran Ishak tidak ada dalam Al-Qur’an.
Begitu pula kata yang tercetak dalam tanda kurung –
(kelahiran) – tidak terdapat dalam Al-Qur’an.
Kata-kata tersebut hanya merupakan tafsiran dalam
terjemahan Al-Qur’an.
Jadi dari ayat-ayat diatas dapat disimpulkan bahwa :
TIDAK ADA NAMA ISMAIL DALAM AYAT DIATAS
Jadi akhirnya Islam harus menggunakan logika
jungkir balik dan tambal sulam untuk membuktikan
bahwa anak yang dikurbankan adalah Ismail.
Ada 2 logika yang biasanya digunakan untuk
menafsirkan bahwa ayat diatas adalah pengurbanan
Ismail :
I.1 ANAK YANG SABAR
Ayat 101 : Maka Kami beri dia kabar gembira dengan
SEORANG ANAK YANG AMAT SABAR
Karena di ayat lain Ismail disebut sebagai orang
yang sabar.
QS 21 : 85 :
Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua
mereka termasuk orang-orang yang SABAR.
Jadi karena anak tersebut orang sabar dan Ismail
disebut sebagai orang sabar maka oleh Islam anak itu
dimutlakkan pasti Ismail.
Komentar :
Pertama :
Jika kita cek dengan terjemahan bahasa Ingris dan
transliterasi Arabnya, terlihatlah bahwa kata yang
diterjemahkan SABAR oleh Depag ternyata
sebetulnya BAHASA ARABNYA berbeda.
Sumber :
Qur’an Viewer Versi 2.8
037.101 Fabashsharn[a]hu bighul[a]min [H]ALEEM(IN)
037.101 So We gave him the good news of a boy
ready to suffer and FORBEAR.
021.085 Wa-ism[a]AAeela wa-idreesa wa[tha] alkifli
kullun mina a(l)[SSA]BIREEN(A)
021.085 And (remember) Isma’il, Idris, and Zul-kifl, all
(men) of constancy and PATIENCE;
Jadi terbuktilah bahwa terjemahan Depag sengaja
dibuat meleset demi dapat mengkait-kaitkan
dengan nama Ismail dalam peristiwa pengurbanan.
Kedua :
Muslim senanatiasa menuduh bahwa cerita Kej 22 : 2
telah dipalsukan dimana nama Ishak seharusnya
adalah Ismail.
Kita coba terapkan logika tuduhan muslim dalam
menilai kisah pengorbanan menurut Al-Qur’an ini.
Ayat 100 menyebutkan Ibrahim memohon anak yang
SALEH.
Anehnya di ayat 101 disebutkan Allah memberikan
anak yang SABAR.
Bukankah ini tidak tepat, yang dimohon adalah anak
yang SALEH, kenapa oleh Allah SWT yang diberi
berubah menjadi anak yang SABAR.
Sementara di ayat 112 setelah periwtiwa pengurbanan
disebutkan Ishak adalah nabi yang SALEH.
Dengan mengikuti logika pemalsuan, dengan mudah
dapat dikatakan bahwa :
Ayat 101 telah dipalsukan, muslim telah merubah
ayat yang asli (SALEH) menjadi ayat palsu (SABAR)
demi mengkaitkan dengan Ismail.
Jadi ayat yang benar adalah :
ayat 101 : Maka Kami beri dia kabar gembira dengan
seorang anak yang amat SALEH
Dengan demikian ayat 100 – 113 menjadi satu
kesatuan yang kukuh.
Ibrahim memohon anak yang SALEH
Allah memberikan anak yang SALEH
Ishak sebagai anak yang SALEH dengan rela
bersedia dikurbankan
Karena kerelaannya, Ishak diberkati menjadi Nabi
yang SALEH.
Ketiga :
Bagaimanapun sifat sabar sudah sepantasnya menjadi
sifat dari nabi-nabi. Ini bukanlah sifat yang spesifik
yang hanya bisa dimiliki oleh Ismail. Hampir semua
nabi pasti menghadapi tantangan dari kaumnya, dan
mereka pasti harus bersifat sabar dalam misinya.
I.2 DIJANJIKAN KEMUDIAN DISURUH
MENGURBANKAN
Tidaklah mungkin Allah menjanjikan kabar gembira
dengan kelahiran Ishak kemudian meminta Ibrahim
untuk mengurbankannya.
Pendapat ini sudah berkembang cukup lama,
tercermin dari kisah dibawah ini.
Sumber :
Islam in the Balance
Brother Mike, halaman 52 – 53 :
Menurut seorang penulis muslim al- Massoudy, Ibn
Abbas dan Ikrima berdebat soal identitas anak yang
dikorbankan :
Ikrima bertanya, “ Siapa anak yang dikorbankan”
Abdallah menjawab, “Ishmael”
“Kenapa”, tanya Ikrima
Ibn Abbas menjawab, “Karena bagaimana mungkin
Allah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran
Ishak dan kemudian memerintahkan Abraham
membunuhnya.”
Komentar :
Sebetulnya Al-Qur’an telah menjawabnya sendiri,
yaitu :
ayat 106 : Sesungguhnya ini benar-banar suatu UJIAN
YANG NYATA.
Ujian dimana anak yang dijanjikan dan diberitakan
secara khusus diminta untuk dikurbankan.
II. MENURUT HADIS
Hadis Shahih Bukhari mengisahkan bahwa nabi
Ibrahim membawa ibu Hajar dan Ismael anaknya,
yang MASIH MENYUSU ke wilayah Mekah. Tidak ada
sama sekali kisah pengurbanan. Tidak pula
disebutkan Ibrahim mengunjungi Ismail saat masih
anak-anak maupun remaja. SESUDAH ISMAIL
MENIKAH, barulah Ibrahim datang ke Mekah 3 kali
bolak-balik, dan baru pada kunjungan terakhir Ibrahim
berhasil menjumpai Ismael. Dalam pertemuan ini
tidak ada kisah pengurbanan, yang ada adalah kisah
Ibrahim dan Ismail membangun Kabaah yang dikenal
dalam Al-Qur’an.
Sumber :
Sahih Bukhari Volume 4, buku 55, nomer 583:
Dikisahkan oleh Ibn Abbas:
…… Abraham membawa Hagar dan anaknya ISMAEL
YANG MASIH MENYUSU ketempat dekat Ka’ba
dibawah pohon dilokasi Zam Zam, diposisi tertinggi
dari rumah Allah. Pada saat itu tidak ada orang di
Mekah, begitu pula tidak ada air. Jadi Abraham
menyuruh mereka duduk ditempat itu dan
meletakkan sebuah tas kulit berisi kurma dan air
dalam tas kulit dan kemudian pulang. Hagar
mengikutinya dan berkata, “O Abraham! Kamu
hendak pergi kemana, meninggalkan kami dilembah
ini dimana tidak ada orang dan tidak ada apapun
yang dapat menemani kami Hagar mengulang
kalimatnya berulang, tetapi Abraham tidak menoleh.
Kemudian Hagar bertanya, “ Apakah Allah yang
memerintahkan ini?.” Abraham menjawab, “Ya”.
Hagar berkata, “ Jika begitu, Allah tidak akan
meninggalkan kami”. Dan Hagar kembali sementara
Abraham terus berjalan pulang. …………
………. Malaikat berkata bepada Hagar, “Jangan takut ,
karena disinilah rumah Allah akan dibangun oleh anak
ini dan ayahnya, dan Allah tidak pernah
mencampakkan umatNya. ………… Hagar hidup disana
hingga beberapa orang dari suku Jurhum
mendapatinya dan Ismail disana…………….. ISMAIL
TUMBUH BESAR DAN BELAJAR BAHASA ARAB DARI
MEREKA (suku Jurhum) ………
.…… SETELAH HAGAR MENINGGAL, ABRAHAM
DATANG UNTUK PERNIKAHAN ISMAEL sekaligus
untuk melihat keluarganya yang telah dia tinggalkan,
tetapi ABRAHAM TIDAK MENJUMPAI ISMAEL. Ketika
Abraham bertanya kepada istri Ismael, dia menjawab,
“Ismael pergi untuk mencari nafkah”. ………..
…….. Abraham tidak menjumpai Ismael dalam jangka
waktu yang telah ditentukan Allah dan KEMUDIAN
BERUSAHA UNTUK MENEMUI ISMAEL KEMBALI,
TETAPI TIDAK BERHASIL. …..
……… Abraham kembali tidak menjumpai Ismael
dalam jangka waktu yang telah ditentukan Allah dan
kemudian berusaha untuk menemui Ismael kembali.
KALI INI ABRAHAM MELIHAT ISMAEL DIBAWAH
POHON DI ZAM ZAM, sedang menajamkan anak
panahnya. Ketika Ismael melihat Abraham, dia berdiri
dan menyambutnya. Abraham berkata, ‘Oh Ismael,
Allah telah memberi perintah kepadaku.” Ismael
berkata, “Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan
Allah kepadamu.” Abraham bertanya, “Apakah
engkau mau membantuku?’. Ismael berkata, “Aku
akan membantumu”. Abraham berkata, “Allah telah
memerintahkan untuk membangun sebuah rumah
disini (red : Ka’ba).” Kemudian mereka mulai
membangun rumah tersebut. …….
Hadis sahih Bukhari ini memang memusingkan muslim
karena KEKOSONGAN CERITA PENGURBANAN.
Kesulitan tersebut terekam dalam kutipan berikut.
Sumber :
Sejarah Nabi Muhammad SAW
Muhammad Husain Haekal.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY
Kisah penyembelihan dan penebusan
BEBERAPA AHLI BERSELISIH PENDAPAT TENTANG
PENYEMBELIHAN ISMAIL SERTA KURBAN YANG
TELAH DIPERSEMBAHKAN OLEH IBRAHIM. Adakah
sebelum kelahiran Ishaq atau sesudahnya? Adakah itu
terjadi di Palestina atau di Hijaz?
Jelas sekali karena :
1. Jika sebelum kelahiran Ishak, berarti harus terjadi
sebelum Ismail diusir oleh Abraham. Timbul persoalan
usia karena hadis Bukhari di atas yang menyebutkan
Ismail masih menyusu saat dibawa oleh Hajar. Secara
perkiraan berarti usia anak tersebut masih dibawah 3
tahun. Sementara menurut Qur’an QS 37 : 102 : ‘Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata :
“Hai anakku …………” Secara kasar berarti sudah sekitar
10 tahunan.
2. Jika setelah Ishak lahir, berarti harus terjadi setelah
Ismail diusir oleh Abraham. Timbul persoalan karena
hadis Bukhari diatas sama sekali tidak menyebutkan
adanya peristiwa pengorbanan tersebut.
Kekosongan cerita pengurbanan Ismail dalam tradisi
Islam jelas mengherankan. Namun tidak
mengherankan jika kita menilai secara kritis karena
memang ISMAIL TIDAK PERNAH MENJADI TOKOH
PENTING DI ERA PRA ISLAM.
Itulah sebabnya Al-qur’an ternyata tidak menceritakan
sama sekali tentang :
• kelahiran Ismail dari Hagar
• permusuhan Sara dan Hagar
• pengusiran Hagar dan Ismail oleh Ibrahim
• kisah kenabian Ismail
Bahkan nama Hagar sama sekali tidak disebut dalam
Al-qur’an.
Bahkan asal usul Hagarpun TIDAK DIKETAHUI
secara luas dijaman Muhammad SAW bahkan hingga
era Muhammad Ibn Ishaq (695 M – 761 M) – penulis
biografi tertua tentang Muhammad SAW.
Sumber :
Sirah Ibnu Ishaq – Ksah Sejarah Nabi Tertua
Muhammad bin Yassar bin Ishaq
Muhammadiyah University Press, 2002, jilid 1
halaman 4
Muhammad bin Muslim bin Ubaidullah bin Shihab al
Zuhri mengatakan kepada saya bahwa Abdurrahman
bin abdullah bin Ka’ab bin Malik al Anshari, dikenal
juga sebagai al Sulami mengatakan bahwa nabi
bersabda : “Ketika kalian nanti menaklukkan bangsa
Mesir, perlakukanlah penduduknya dengan baik ……..”
SAYA BERTANYA kepada al Zuhri apa yang
dimaksud NABI DENGAN MENGANGGAP MEREKA
SEBAGAI KERABAT. Dia menjawab bahwa HAJAR,
IBU DARI ISMAIL ADALAH SATU KETURUNAN
DENGAN MEREKA.
Jadi dijaman Muhammad ibn Ishaq hidup (695 M – 761
M), kisah tentang Hajar ini tampaknya masih belum
begitu dikenal sehingga kenyataan bahwa Hajar
berasal dari Mesir tidak diketahui oleh Ibn Ishaq.
Kekosongan cerita seorang tokoh seperti Ismail inilah
yang menimbulkan keganjilan.
KENAPA KISAH NABI ISMAIL BEGITU MINIM
DICERITAKAN DALAM AL-QUR’AN.
Dari penelitian sumber-sumber pra Islam ternyata
nama Ismail hampir tidak pernah disebutkan sebagai
tokoh Arab.
Lebih lanjut kutipan dari tokoh Islam modern tentang
hubungan Ismail dan Arab sbb :
1. Dr. Taha Husayn, seorang profesor dari Mesir,
pendapatnya dikutip dalam buku Mizan al Islam karya
Anwar Jundi, halaman 170 :
“Dalam kasus cerita Abraham dan Ismail membangun
Kabah cukup jelas, cerita ini muncul belakangan
disaat Islam mulai berkembang. Islam
mengeploitasi kisah ini untuk kepentingan agama”
2. W Aliyudin Shareef, dalam buku In Response to
Robert Morey’s Islamic Invasion, halaman 3 – 4 :
“Pada masa sebelum Islam, Ismail tidak pernah
disebutkan sebagai Bapa Bangsa Arab”
Akibatnya timbullah perselisihan pendapat diantara
mereka sendiri tentang siapa anak yang dikurbankan.
Pertama :
Sumber :
Sejarah Nabi Muhammad SAW
Muhammad Husain Haekal.
BAGIAN KEDUA: MEKAH, KA’BAH DAN QURAISY
Kisah penyembelihan dan penebusan
Oleh karena di dalam Qur’an tidak disebutkan nama
person korban itu, maka AHLI-AHLI SEJARAH KAUM
MUSLIMIN BERLAIN-LAINAN PENDAPAT.
Kedua :
Selain Haekal, Yusuf Ali juga cukup berjiwa besar
dengan mengakui adanya perbedaan pendapat
tentang anak yang dikorbankan ini sebagaimana
tercatat dalam komentarnya terhadap surah 37.
Sumber :
The Holy Quran, Translation and Commentary
A Yusuf Ali
Halaman 1204, catatan kaki 4096
“Ini terjadi di tanah yang subur antara Syria dan
Palestina. Anak tersebut kemudian lahir, yang
menurut tradisi Islam (YANG TIDAK SEMUANYA
SEPENDAPAT), adalah anak pertama Abraham yaitu
Ismail …”
Ketiga :
Sementara seorang ulama kuno yaitu Ibnu Jarir at
Tabari yang lahir di Thabrastan tahun 839 M,
meninggal di Baghdad 932 M. Seorang ahli sejarah
yang terkemuka, ahli tafsir dan seorang imam. Kitab
tafsirnya telah menjadi rujukan bagi segala ulama
tafsir. Dalam kitabnya, Tabari mencatatkan
perbedaan pendapat tentang siapa anak yang
dikurbankan.
Sumber :
The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and
Patriarchs
Ibnu Jarir at Tabari (trans. William M. Brenner)
State University of New York Press, Albany 1987,
halaman 82 :
“Cerita-cerita awal tidak sependapat tentang siapa
anak yang dikurbankan. BEBERAPA MENGATAKAN
ISHAK, SEMENTARA YANG LAIN MENGATAKAN
ISMAEL. Kedua pendapat didukung dengan
pernyataan yang berasal dari Rasulullah. Jika kedua
pendapat berimbang, hanya Al-Qur’an yang dapat
dijadikan bukti dimana Al-Qur’an menyebutkan nama
ISHAK YANG LEBIH BISA DITERIMA SEBAGAI
ANAK YANG DIKURBANKAN.
Seorang Al-Tabari yang berlaku obyektif dan jujur
akhirnya berpendapat bahwa Ishak adalah anak yang
dikurbankan.
Berikut ini adalah beberapa pendapat yang
menyatakan Ishak adalah anak yang dikurbankan.
Sumber :
The History of al-Tabari, Vol. II, Prophets and
Patriarchs
Ibnu Jarir at Tabari (trans. William M. Brenner)
State University of New York Press, Albany 1987,
halaman 82 – 86 :
Nama Ishak dinyatakan oleh Abu Kurayb- Zayd b. al-
Hubab- al-Hasan b. Dinar- ‘Ali b. Zayd b. Jud’an- al-
Hasan- al-Ahnaf b. Qays- al-‘Abbas b. ‘Abd al-Muttalib-
Rasul Allah dalam percakapan berkata, “Kemudian
Kami tebus dia dengan korban yang luar biasa.” Dan
dia juga berkata, “ANAK YANG DIKURBANKAN
ADALAH ISHAK”
Menurut Abu Kurayb – Ibn Yaman-Mubarak – al-Hasan-
al-Ahnaf b. Qays-al – ‘Abbas b. ‘Abd al-Muttalib :
Kutipannya, ” Kemudian Kami tebus dia dengan
kurban yang luar biasa.” DENGAN MENGACU KEPADA
ISHAK.”
Menurut al-Husayn b. Yazid al-Tahhan – Ibn Idris –
Dawud b. Abi Hind – ‘Ikrimah – Ibn ‘Abbas : ANAK
YANG DISURUH UNTUK DIKURBANKAN ADALAH
ISHAK.
Menurut Ya’qub – Ibn ‘Ulayyah – Dawud – ‘Ikrimah –
Ibn ‘Abbas : ANAK KURBAN ADALAH ISHAK.
Menurut Ibn al-Muthanna – Muhammad b. Ja’far –
Shu’bah – Abu Ishaq – Abu al-Ahwas: Seseorang
menyombongkan diri dihadapan Ibn Mas’ud, “Saya
begini begitu, saya anak dari keturunan terhormat”
Dan Abdallah ibn Mad’ud berkata, “Ini adalah Joseph
b. Jacob, anak ISHAK, YANG DIKURBANKAN, anak
Abraham, sahabat Allah”
Menurut Ibn Humayd – Ibrahi, b. al-Mukhtar –
Muhammad b. Ishaq – ‘Abd al-Rahman b. Abi Bakr – al-
Zyhri – al-‘Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi – Abu Hurayrah –
Ka’b : Ketika Tuhan berkata, “Kemudian Kami tebusnya
dengan kurban yang ajaib”, DIA SEDANG BERBICARA
TENTANG ISHAK ANAK ABRAHAM.
Menurut Ibn Humayd – Salamah – Muhammad b.
Ishaq- ‘Abdallah b. Abi Bakr – Muhammad b. Muslim
al-Zuri – Abu Sufyan b. al-‘Ala’ b. Jariyah al-Thaqafi,
seorang sahabat dari bani Zuhrah – Abu Hurayrah –
Ka’b al-Ahbar : ANAK ABRAHAM YANG
DIPERINTAHKAN UNTUK DIKURBANKAN ADALAH
ISHAK.
Karena sumber Islam sendiri baik Al-Qur’an dan hadis
tidak menyokong pandangan bahwa anak yang
dikurbankan adalah Ismail, maka dengan
mengesampingkan rasa malu akhirnya muslim
terpaksa harus MENGAIS NAMA ISMAIL DARI
ALKITAB YANG SELAMA INI MEREKA TUDUH
SUDAH DIPALSUKAN. Sikap mendua yang mencolok,
jika ada yang menguntungkan Islam maka dipakailah
ayat tersebut, sebaliknya jika tidak menguntungkan
maka dituduhlah ayat tersebut palsu.
Argumen yang digunakan adalah :
Pertama : Anak Yang Tunggal
Menurut muslim Kej 22 : 2 : “Ambillah anakmu yang
TUNGGAL itu, yang engkau kasihi, yaitu ISHAK” telah
dipalsukan dan seharusnya berbunyi “Ambillah
anakmu yang TUNGGAL itu, yang engkau kasihi, yaitu
ISMAIL”.
Dari sini disimpulkan oleh muslim sbb :
• Anakmu yang tunggal tidak mungkin mengacu ke
Ishak.
• Pasti ada satu perjalanan lagi yang tidak tercatat
dalam hadis
Sumber :
Sejarah Hidup Muhammad
Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury
Robbani Press, 1998, halaman 6 :
“Di dalam Kitab Kejadian ……… Kisah diatas minimal
MENGANDUNG SATU PERJALANAN IBRAHIM KE
MAKKAH, yakni sebelum Ismail berusia remaja.
Adapun tiga perjalanan yang lain telah diriwayatkan
panjang lebar oleh Bukhari”.
Buku diatas mendapat penghargaan sebagai “Juara
Pertama Lomba Penulisan Sejarah Hidup Nabi
Muhammad SAW” yang diumumkan dalam muktamar
Islam se Asia di Karachi 1398 H. Jadi buku diatas jelas
sangat berbobot.
Karena menyadari bahwa hadis sahih Bukhari jelas-
jelas menyatakan Ismail masih bayi saat dibawa oleh
Hagar, maka pengarang menempatkan peristiwa
pengorbanan tersebut setelah Hagar dan Ismail diusir
namun sebelum pernikahan Ismail.
Namun pandangan ini juga mengandung kelemahan
mendasar, yaitu :
• Pendapat Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury
tentang adanya perjalanan ke 4 diatas hanya
BERDASARKAN ASUMSI SAJA, tidak didukung
dengan sumber-sumber Islam apalagi sumber-sumber
Alkitab.
• Tidak ada kisahnya dalam kitab Kejadian maupun
dalam Al-Qur’an dimana Abraham pergi ke Mekah
• Kalau pengorbanan terjadi SETELAH DIUSIR,
BERARTI ISHAK TELAH LAHIR, maka argument
muslim bahwa Kej 22 : 2 telah dipalsukan dan
seharusnya berbunyi “Ambillah anakmu yang
TUNGGAL itu, yang engkau kasihi, yaitu ISMAIL”
menjadi tidak benar lagi karena Ishak sudah lahir.
JADI ISMAILPUN TIDAK DAPAT DISEBUT ANAK
TUNGGAL.
Kedua : Setelah Pengurbanan Abraham Kembali Ke
Bersyeba
Menurut Muslim, Hagar dan Ismail tinggal di Bersyeba,
dan karena Abraham setelah periwtiwa pengurbanan
pulang ke Bersyeba berarti anak yang dikurbankan
pasti Ismail.
Berikut kutipan pendapat muslim.
Setelah itu muncullah perintah penyembelihan,nah di
sinilah rancunya…lihat kalimat di mana Abraham
berada saat menerima perintah? di Bersyeba kan!
Nah coba kita tengok ayat sebelumnya tentang
pengusiran Hagar dan Ishamel dan kemana mereka
mengembara:
21:14. Keesokan harinya pagi-pagi Abraham
mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya
kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di
atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan
itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di
padang gurun Bersyeba.
Dan setelah selesai tugas penyembelihan Abraham
itu kembali ke Beryeba
Hagar dan Ismail tidak tinggal di Bersyeba, mereka
hanya MENGEMBARA di PADANG GURUN Bersyeba
untuk akhirnya menetap di padang gurun PARAN.
Hagar dan Ismail tidak tinggal di kota Bersyeba
yang didirikan oleh Abraham.
Kej 21 : 21 : Maka tinggallah ia di padang gurun
Paran ……
Lagipula kalau memaksakan bahwa Hagar dan Ismail
tinggal di Bersyeba maka itu harus berarti bahwa
BERSYEBA = MEKKAH karena menurut sahih Bukhari,
Hagar dan Ismail ditinggalkan di Mekah, kemudian air
minum habis, kemudian malaikat memberikan air
kepada Hagar.
Sumber :
Hadis Sahih Bukhari
Volume 4, buku 55, nomor 583 :
Ketika air di kantung kulit telah habis, Hagar
menjadi haus, begitu pula Ismail. Hagar melihat Ismail
yang dalam keadaan menderita kehausan. Hagar
meninggalkan Ismail karena tidak tahan melihat
penderitaan Ismail. …….. . Hagar terus menurt berlari
antara Safa dan Marwa hingga tujuh kali.
Rasulullah berkata, “Kejadian inilah yang mendasari
tradisi jemaah haji berjalan antara Safa dan Marwa”
Ketika Hagar mencapai bukit Marwa dia mendengar
satu suara, Hagar kemudian berkata, “O, siapapun
engkau, kamu telah membuatku mendengar suaramu,
apakah engkau bisa membantuku? Dan ajaib, Hagar
kemudian melihat satu malaikat di lokasi Zam Zam
sedang menggali tanah, hingga akhirnya air
memancar dari tempat itu….
Menurut sahih Bukhari kejadian ini terjadi di Mekah
dan menjadi dasar salah satu ritual ibadah haji..
Kisah yang sama diceritakan juga di Alkitab, hanya
bedanya terjadi di Bersyeba, sebelum Hagar dan
Ismail mencapai Paran.
Kej 21 : 15 – 19 :
21:15 Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah
anak itu ke bawah semak-semak,
21:16 dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah
jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat
anak itu mati.” Sedang ia duduk di situ, menangislah
ia dengan suara nyaring.
21:17 Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat
Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya
kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar?
Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar
suara anak itu dari tempat ia terbaring.
21:18 Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah
dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa
yang besar.”
21:19 Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia
melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya
dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.
Jadi mengikuti logika muslim, tetap saja ada sesuatu
yang “tidak tepat” disini.
Jika mengakui kisah Alkitab bahwa Hagar dan Ismail
tinggal di Bersheba demi mengkaitkan dengan
kepulangan Abraham, maka berarti kisah Hagar lari 7
kali antara Safa dan Marwa adalah bohong karena
kejadian tidak terjadi di Mekah melainkan di
Bersheba.
Berarti kegiatan ibadah haji berjalan antara Safa
dan Marwa juga didasari atas kisah bohong.
Bagaimana ini?
Sekedar informasi :
Lokasi Bersheba
Gambar
Lokasi Paran
III. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa
hal :
1. Al-Qur’an tidak berani menuliskan nama Ismail
Fakta yang sangat aneh.
Al-Qur’an telah mengklaim dirinya sebagai BATU
UJIAN bagi kitab-kitab sebelumnya.
QS 5 : 48
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan BATU UJIAN TERHADAP KITAB-
KITAB YANG LAIN itu.
Pertanyaan logis, lantas apa yang harus diuji kalau
kalau Al-Qur’an sendiri TIDAK BERANI menuliskan
nama Ismail.
Ketiadaan nama Ismail menjadi lebih ironis lagi
karena Al-Qur’an telah mengklaim dirinya sebagai
JELAS.
QS 16 : 89 :
“……… Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab (Al-
Qur’an) untuk MENJELASKAN SEGALA SESUATU dan
petunjuk serta rahma …..”
Bagaimana mau menjelaskan bahwa anak kurban
adalah Ismail sementara tidak berani menjelaskan
dengan nama.
2. Allah SWT tidak berani mengoreksi Yahudi
Tuduhan muslim bahwa Yahudi telah merubah Taurat
(Kej 22 : 2) ternyata tidak dikoreksi oleh Allah SWT
dengan keras. Allah SWT memilih untuk “mengoreksi”
dengan cara menuliskan “seorang anak”, “anaknya”
atau “anak itu”. Apakah ini cukup sebagai koreksi.
Apa susahnya bagi Allah untuk menuliskan dalam Al-
Qur’an NAMA ISMAIL?? Kenapa Allah SWT menjadi
pengecut dengan tidak berani mengkonfrontir
Yahudi.
3. Adanya perbedaan pendapat dikalangan
komunitas muslim awal
Fakta dimana pendapat awal muslim tidak satu
tentang siapa anak yang dikurbankan ini jelas fakta
penting. Jika sedari awal, Al-Qur’an dan Muhammad
SAW sudah menegaskan anak yang dukurbankan
adalah Ismail, mustahil sebagian muslim akan
berpendapat Ishak adalah anak yang dikurbankan.
Jadi hanya dapat disimpulkan sebaliknya yaitu
GENERASI AWAL MUSLIM JUSTRU PERCAYA
BAHWA ANAK YANG DIKURBANKAN ADALAH
ISHAK.
4. Pengurbanan Ismail adalah cerita bohong
kemudian
Dimasa pra Islam, Ismail bukanlah tokoh Arab.
Bahkan asal usul Hajar saja tidak diketahui hingga
masa Ibn Ishaq hidup. Jadi kisah PENGURBANAN
ISMAIL INI PASTI KISAH YANG DIKARANG
BELAKANGAN SETELAH YAHUDI DI JAZIRAH ARAB
DIUSIR KELUAR sehingga muslim dengan aman
dapat mengklaim Ismail sebagai anak pengurbanan
tanpa adanya tentangan dari Yahudi. Klaim Ismail
sebagai anak pengurbanan jelas tidak dapat
dilakukan oleh muslim saat Yahudi masih di jazirah
Arab karena akan langsung dikonfrontir oleh Yahudi
dengan Tauratnya.

:

: