sejarah kehidupan Rasul besar Paulus

Posted on Februari 8, 2012

0


Sering terjadi bahwa sobat-sobat muslim sering
menganggap saulus/ Paulus adalah orang yang
melencengkan ajaran ALLAH.Apakah benar seperti
itu ?? di sini saya ingin sedikit menguraikan siapa itu
saulus/paulus ??
1. siapa saulus/paulus ??
Menurut sejarah, maka tokoh Paulus alias Saulus ini
muncul kira-kira tahun 38 M. Ada pula yang
mengatakan tahun 80 M, yang jelas ia ada hidup di
zaman Yesus, paling tidak ia seangkatan dengan
murid-murid Yesus. Paulusadalah anak didik Gamalied,
seorang guru yang termasyhur, akhli Taurat dan
Falsafah.
ayat : (Kis 9,11, 30; 11,25; 21,39; 23,3)
—————————————————————————-
penelaahan : saulus bukan orang sembarangan,dia
adalah orang yang punya prinsip garis keras untuk
pengenalan akan HUKUM TAURAT dalam ajaran
Yahudi.
—————————————————————————-
2.ibu Saulus
Ibu Paulus adalah orang Yunani,dan ayahnya orang
Yahudi, sehingga pelajaran agama yang diperolehnya
adalah gabungan daripada kepercayaan Yahwe dan
Helenisme. Dari percampuran darah Yahudi dan
Yunani, yaitu darah Pandai dan darah Berpikir (Kita
mengetahui bukan bahwa orang-orang Yahudi
terkenal kepandaian dan penemuan-penemuan
ilmiahnya, dan Yunani kita kenal pula telah
melahirkan tokoh-tokoh falsafah yang agung-agung),
maka Paulus memang luar biasa sekali. Otaknya
cerdas luar biasa, dapat kita saksikan nanti dalam
surat-surat kirimannya. Ia bahkan dengan gemilang,
sekalipun mendapatkan tantangan yang bukan sedikit
berhasil menyatukan alam pikiran orang-orang Gerika,
Alexandria, Gybelle dan Yahudi, yang kemudiannya
merupakan suatu kekuatan yang luar biasa. Terdorong
oleh ibunyalah barangkali makanya ia berkeras hati
ingin mengabarkan Injil kepada orang orang Gerika
maksudnya. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai
seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras
dalam agama Yahudi.
3.ayah Saulus
Ayahnya Paulus berasal dari suku Benyamin salah
satu suku dari 12 suku Bani Israel. Meskipun ayahnya
Paulus tinggal di negeri asing ia tetap melaksanakan
hukum Taurat dengan cermatnya. Pada zaman Paulus,
kota Tarsus merupakan kota dagang yang penting
dan ramai karena sebagai kota perlintasan dari Timur
ke Eropa pulang pergi. Pada masa itu kotaTarsus
terdapat sebuah perguruan Yunani, sejumlah kuil
dewa-dewi, gedung komedi, dan tempat-tempat
hiburan lainnya yang sangat digemari oleh orang-
orang Yunani.
—————————————————————————-
penelaahan : : saulus lahir dari darah pandai dan
darah berfikir.
—————————————————————————-
4. Tarsus
Tarsus, kota besar dan kaya, terletak dalam jalur urat
nadi dunia pada waktu itu, pintu masuk ke Asia Kecil.
Kota ini terkenal dengan kualitas kain sutranya. Hal ini
mungkin menjelaskan mengapa sebagai kota
perdagangan, Paulus juga memahami urusan dagang.
Tarsus memiliki pemerintahan sendiri, dewan kota
yang dipilih, dan mata uang sendiri. Keberadaan
komunitas Yahudi selama abad pertama setelah
Masehi sangat kuat. Pada tahun 66 sebelum Masehi,
kota itu menentang Cassius, pembunuh Yulius Kaisar,
dan sebagai hadiahnya Markus Antonius mengangkat
status Tarsus menjadi kota bebas, yang tidak lagi
membayar pajak.Tarsus dikenal sebagai pusat
pendidikan dan filsafat. Strabone, dalam Geografia-
nya (14.5.14) mengatakan bahwa Tarsus lebih maju
daripada Aleksandria dan tempat lain mana pun
dalam bidang pendidikan. Dia berbicara tentang
keunggulan sekolah retorikanya. Filsuf Stoik telah
membuat Tarsus menjadi tempat tinggal yang
menarik. Karena itu hal-hal ini yang menunjukkan
jejak ajaran Stoik dapat ditemukan dalam
pengajarannya di sepanjang perjalanannya. Santu
Paulus menerima kebudayaan ini dalam
pendidikannya. Di banyak Surat-suratnya, ia
menunjukkan istilah-istilah setempat, argumen yang
ditarik dari kebudayaan, filsafat dan sastra zamannya.
5. saulus orang yahudi dan seorang farisi
* Paulus berbicara tentang dirinya pada beberapa
kesempatan dan hal ini membantu kita memahami
siapa dirinya. Ia memberitahu kita beberapa informasi
penting dalam Fil 3, 5-6: “Disunat pada hari kedelapan,
dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, seorang Ibrani
asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat, aku
orang Farisi. Tentang kegiatan, aku penganiaya
jemaat, tentang kebenaran dalam menaati hukum
Taurat, aku tidak bercacat” Dia disunat para usia
delapan hari sesudah kelahirannya. Hal ini
menunjukkan bahwa ia sungguh berasal dari bangsa
Yahudi. Paulus disunat sebagaimana ditetapkan oleh
Hukum Taurat Musa (Im 12,3). “Orang Israel”
merupakan istilah teknis untuk menggambarkan
identitas religiusnya, “dari suku Benyamin.” Menjadi
anggota suku ini merupakan suatu kehormatan dalam
Yudaisme dengan beberapa alasan. Benyamin adalah
putra dari Rachel, isteri yang sangat disayangi oleh
Yakub, ia juga satu-satunya anak yang lahir di Tanah
Terjanji (Kej 35,16-18). Salah seorang keturunan suku
ini menjadi raja pertama dari bangsa Israel (1 Sam 9,
1-2) dan suku ini tetap setia kepada keturunan Daud (1
Raj 12,21). Bersama dengan suku Yuda, suku Benyamin
adalah kelompok pertama yang membangun kembali
Kenisah Yerusalem setelah pembuangan (Kel 4,1). Jadi
menjadi anggota dari suku ini adalah suatu
kehormatan. “Seorang Yahudi dari kelompok Yahudi”
atau dengan kata lain seorang Yahudi yang
menjalankan hukum Yahudi secara taat, yang
menjalankan Hukum Musa dan berbicara bahasa
Aram. Teks-teks ini memperlihatkan kepada kita
tentang Yahudi sejati.
* Paulus juga menyatakan dirinya sebagai seorang
Farisi, yang dikenal sangat taat kepada Hukum Musa
dan hukum lisan. Hukum lisan ini, yang dijadikan
hukum tertulis pada abad kedua sebelum Masehi
menjadi terkenal dengan sebutan Talmud. Flavius
Josef, seorang sejarawan Yahudi yang bekerja untuk
kekaisaran Roma, menulis: “Orang-orang Farisi
memaksakan kepada umat Yahudi hukum tradisi
nenek moyang yang tidak tertulis dalam Hukum Musa
(Antiquités, Juives, 13.297). Kita menemukan gagasan
ini sekali lagi dalam Surat Rasul Paulus di mana dia
berkata bahwa dia secara fanatik “membela tradisi
nenek moyang” (Gal 1,14). Hukum yang terkait dengan
makanan, uang dipandang penting. Hal-hal ini secara
simbolik membatasi Umat Pilihan sehingga menjadi
terpisah dari bangsa manusia lainnya. Iman baru,
dalam Yudaisme, menjungkir-balikkan perbedaan ini.
Hal ini tidak dapat dibiarkan bagi orang Farisi yang
teguh beriman seperti Paulus. Menyangkal hukum ini
dan mengatakan bahwa keselamatan diperuntukkan
bagi semua umat manusia berarti bahwa Israel
berada dalam bahaya kematian.
—————————————————————————-
penelaahan : Namun demikian, gambaran atau
deskripsi ini tidak membuat kita membayangkan
seorang manusia yang dekat dengan kebudayaan
iman. Kita telah melihat konteks di mana Paulus
bertumbuh di Tarsus. Surat-suratnya membenarkan
bahwa ia mendapat pendidikan di sinagoga dan juga
dalam lingkungan Yunani. Kemahirannya dalam hal
retorika dan pengutipan atau referensinya kepada
penulis Yunani kuno menyatakan bahwa ia belajar
hal-hal itu paling tidak hingga berusia 14 atau 15
tahun. Selanjutnya, dia dikirim ke Yerusalem untuk
mempelajari tradisi nenek moyangnya di sekolah
Gamaliel. Bahkan para Rabi dalam kisah itu tidak
ragu-ragu memberi kepada para siswa mereka
penulis-penulis Yunani untuk dibaca. Karena itu betapa
luasnya dunia budaya dan intelektual dari Paulus.
—————————————————————————-
6.kenapa saulus bisa berbalik dan menyatakan
Yesus adalah Tuhan ??
Panggilan untuk bermisi dan “pertobatan” memiliki
kaitan yang erat dalam diri Paulus. Itulah sebabnya
mengapa menarik untuk dikaji hakikat pendidikan
spiritual agar memahami penggilannya sebagai
misionaris.Paulus tidak banyak berbicara tentang
peristiwa-peristiwa ini dalam surat-suratnya. Inti
suratnya terdapat dalam 1 Kor 15,1-11, Gal 1,13-17, dan
Fil 3,2-14, tetapi rincian historisnya tidak banyak
diberikan. Rasul Paulus lebih berfokus pada arti
penting atau maknanya. Ia berbicara tentang
pengalaman yang mengubah seluruh hidupnya, tetapi
agaknya lebih daripada suatu peristiwa khusus yang
ia lihat sebagai saat panggilan sejak dari kandungan
ibunya (Gal 1,15). Karena itu kita tidak dapat menafsir
perjumpaannya dengan Yesus Kristus tanpa
memperhatikan seluruh keberadaannya.Lalu, apa arti
dari peristiwa itu? Berbicara tentang pertobatan,
akan
salah jika menafsir hal ini sebagai perubahaan dari
satu agama ke agama lain. Sebetulnya, Paulus
sama sekali tidak berpikir bahwa ia telah
mengubah agamanya. Harus dicatat bahwa
pemisahan antara Yudaisme dan Kristianisme
belum terjadi pada waktu itu. Pertobatan ini lebih
memiliki makna sebagai keterbukaan hati kepada
Allah, pancaran rahmat dan perubahaan
pribadi.Paulus mengomentari perjumpaannya
dengan Kristus dalam kata-kata berikut ini: “Ketika
Allah, yang memilih aku sejak kandungan ibuku dan
memanggil aku (Yer 1,5) oleh karena kasih karunia-
Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam
aku, supaya aku memberitakan Dia kepada bangsa-
bangsa bukan Yahudi” (Gal 1,15-16). Rasul Paulus
memahami kejutan dalam dirinya ini sebagai buah
dari kematangan yang lama yang dimulai sejak saat
pertama keberadaanya: sejak lahir ia dibimbing
oleh Alah, secara perlahan, sabar, sampai momen
yang menentukan ketika Kristus menangkapnya
dan membuatnya menjadi miliknya untuk
selamanya (Fil 3,12)
. Paulus menegaskan dalam
Surat-suratnya tentang prakarsa ilahi. Dalam satu
momen saja, semuanya menjadi berbeda.Pertobatan
berarti dilahirkan kembali. Peristiwa itu membawa
sesuatu yang sama sekali baru. Paulus menjadi buta
karena penampakan diri Kristus. Pembaptisan
memulihkan pengelihatannya (Kis 9,18), suatu simbol
yang sangat kuat dan jelas. Orangtua itu tidak bisa
melihat dengan baik sebelum ia dilahirkan kembali.
Satu dunia baru dinyatakan kepada Sang Rasul.
Seluruh pemikiran Paulus didasarkan pada
pengalaman itu. Ini bukan hanya penglihatan tentang
Kristus. Ini terutama adalah pewahyuan transformasi
dunia yang mendalam yang diperoleh berkat Kristus
yang Bangkit. Paulus menegaskan dalam tulisan-
tulisannya perbedaan antara dunia lama dan dunia
baru. Ia mengalami perbedaan ini dalam tubuhnya.Dia
menggunakan dua ungkapan untuk menggambarkan
apa yang terjadi: Sang Rasul “melihat” Kristus (1 Kor
9,1; 15,8) dan menerima wahyu (Gal 1,16; 2,2; Ef 3,3),
suatu istilah yang sering ia gunakan (Rom 16,25; 1 Kor
1,7; 2 Kor 12, 1,7 dan masih banyak lagi). Kedua istilah
ini menggambarkan satu tindakan ilahi. Kristus tidak
dilihat, sebetulnya Dialah yang membiarkan dirinya
dilihat. Ketika berbicara tentang pengelihatan ini,
Paulus menggunakan kata kerja dalam bentuk pasif.
Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia; inilah
komunikasi misteri ilahi. Itulah sebabnya dalam Ef 1,17
Paulus berbicara tentang “roh kebijaksanaan dan
wahyu”, bagi orang-orang Kristiani, sumber
pengetahuan tentang misteri Allah.
7.perkataan saulus/paulus
… aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku
bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil yang
berasal dari manusia. Karena aku tidak menerimanya
dari manusia dan bukan manusia yang
mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya
melalui pernyataan Yesus Kristus. Sebab kamu telah
mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama
Yahudi: Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah
dan berusaha membinasakannya. Di dalam agama
Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman
yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai
orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat
nenek moyangku. Tetapi sewaktu Allah, telah memilih
aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh
anugerah-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di
dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara
bangsa-bagsa bukan Yahudi, sesaat pun aku tidak
minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak
pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah
menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke
tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.
Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem
untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima
belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat
seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali
Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Di hadapan Allah
kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar,
aku tidak berdusta. Kemudian aku pergi ke daerah-
daerah Siria dan Kilikia. Tetapi rupaku tetap tidak
dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. Mereka
hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya
mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah
hendak dibinasakannya. Lalu mereka memuliakan
Allah karena aku (Gal 1:13-24)
—————————————————————————
KESIMPULAN
Salah besar bila orang yang memandang Paulus
sebagai pendiri agama Kristiani, hanya karena
besarnya hasil karya misioner untuk mewartakan
iman ini pada masa awal Gereja. Tetapi inti yang mau
disampaikan adalah bahwa bukan tanpa alasan
kemudian bahwa ia tetap dipandang sebagai contoh
yang paling unggul bagi semua karya misioner. Ciri
utama yang kita harus tiru adalah kedekatannya
dengan Kristus: “Apa yang menjadi pertimbangan
adalah menempatkan Yesus Kristus pada pusat
kehidupan kita, sehingga identitas kita ditandai betul
dengan perjumpaan, persekutuan dengan Kristus dan
dengan Sabda-Nya.” (P aus Benediktus XVI, Audiensi,
25 Oktober 2006).Ciri kedua adalah visinya tentang
misi ketika karya Roh Kudus bersatu dengan
kesadaran akan kelemahan pribadi. Seorang rasul
harus menjadi satu dengan Kristus, tetapi bersama
Kristus yang Tersalib. Kekuatan Rasul Paulus adalah
kelemahannya karena ia membuka diri kepada Roh
Kudus untuk menjalankan kekuasaan-Nya.
Keterbukaan kepada Roh Kudus ini merupakan
persyaratan bagi kerasulan yang akan berbuah
banyak. Ciri penting ketiga adalah persepsi Paulus
tentang sifat universal dari keselamatan. Dia adalah
manusia yang berwawasan universal. Dalam satu
dunia yang ditandai dengan pemisahan dan hambatan
di antara masyarakat dan kebudayaan, ia menyadari
bahwa pesan Kristus diperuntukkan bagi semua umat
manusia dari kebudayaan atau agama apa saja,
kebangsaan atau kondisi sosial apa pun. Dia
menyadari bahwa “Allah adalah Allah bagi semua
orang.” ( Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum, 25
Oktober 2006).Yang terakhir, keterpusatan pada
Gereja, Tubuh Kristus, tidak diragukan lagi merupakan
pelajaran penting yang ditarik dari keteladanannya ini.
Paulus selalu berpandangan bahwa misinya harus
dilaksanakan dalam Gereja dan melalui Gereja. Misi
adalah urusan membangun Tubuh Kristus. Ini berarti ia
tidak berpikir tentang pewartaan tanpa perutusan
oleh Gereja. Apakah melalui pertemuannya dengan
Petrus, yang harus diyakini bahwa ia tidak melakukan
sesuatu yang sia-sia, atau permintaan dukungan dari
komunitas di Roma, Paulus tahu bahwa karya
misionernya harus selalu merupakan buah dari ikatan
yang hidup dengan Gereja.
—————————————————————————-
bila ada tanggapan atau ada yang ingin anda
bantah,silakan anda tuang dengan baik di note
ini.biasakan hidup diskusi dengan sehat dan no hujat.
:

: